kategori : Serba Serbi

 

Hidup sehat pada hari ini memang membutuhkan kejelian dan seni yang luwes.  Bagaimana tidak, mudahnya mencari aneka menu makanan favorite dengan segala bentuk tampilan bentuk warungnya mengundang selera hanya saja pada satu sisi sangat berbahaya bagi kesehatan. Sederhananya saja, olahan produk ayam.

Kita temukan sepanjang jalan mulai dari ayam goreng, ayam panggang, olahan telur ayamnya, sampai ayam presto ada semua. Enak -enak semua. La tapi, apakah kita menyadari bahwa kebanyakan ayam yang dipakai merupakan ayam ‘mabok’. Ayam yang dipenuhi oleh aneka racun yang bagaimana bisa membuat dirinya dalam waktu kurang lebih 40 hari sudah siap dijual dan memiliki berat badan 3 kg atau yang siap konsumsi.

Pertanyaannya kritis yang perlu di ajukan…

‘Obat Kimia sintetis’ apa saja yang sudah disuntikan sehingga bisa menghasilkan ayam yang bisa tumbuh secepat itu? Hormon pemercepat pertumbuhan apa saja yang sudah ditenggak oleh sang ayam? Lalu apakah ‘obat-obat kimia sintetis’ itu murni telah bersih dari tubuh si ayam? Bagaimana kalau masih banyak yang tersisa dan tiap kali kita menyantap ayam potong itu malah semakin bertumpuk ‘zat-zat aneh’ dalam tubuh kita?

Sama kasusnya pada ayam petelur. Secara normal siklus ayam kampung kalau bertelur dari segi jumlah serta dari segi kapan waktu bertelurnya jelas bisa dilihat. La lalu kalau ada ayam yang ‘kerjaannya’ bertelur terus sampai mati sedangkan jumlah telurnya sangat banyak lalu parahnya hasil telurnya saja di tetaskan tidak bisa, itu ayam apa? Sudah vaksin apa saya yang disuntikan juga antibiotiknya.

Realitas menuju kesadaran hidup sehat yang lebih baik

Bagaimana juga, itulah realitasnya. KIta mau hidup sehat, namun kita mau makan ayam saja, ayam ‘monster’ yang tersedia. Mau makan telur, ‘telur kimia sintetis’ yang tersedia. Maka nggak heran, pada hari ke hari makin banyak penyakit yang semakin aneh, kekebalan tubuh manusia menurun, sebab apa yang dimakannya itu juga semakin tidak berkualitas.

Ngerinya, ada sebuah falsafah bahwa sifat apa yang kita makan bisa menurun ke pemakannya. Katakanlah salah satu hikman larangan mengkonsumsi daging babi sebab salah satu sifat babi yang tidak punya rasa cemburu itu ditakutkan akan menurun ke manusia. Kita tau misal ada sepasang babi jantan dan betina (katakanlah suami istri), lau kepadanya didatangkan babi jantan satu lagi, maka babi jantan pasangan sah babi betina itu tidak cemburu. Misal si babi jantan yang baru datang itu mengawini babi betina pasangan temennya itu, eh si babi jantan pasangan sahnya malah ikut mengawini juga. Bukan kayak ayam jago yang mati-matian mempertahankan ‘istrinya’ agar nggak dikawinin ayam jago lain.

Nah pada ayam sayur / ayam potong adakah sikap buruknya? Jelas ada. Sifat rakusnya dalam makan. Sifat gampang sakitnya. Gampang matinya. Sudah bukan rahasia lagi kalau ayam potong merupakan ayam yang ringkih sekali terhadap bunyi bunyian yang membuatnya kaget. Ketika ada petir yang mak jegler para petani ayam langsung inspeksi dan mencari ayam-ayamnya yang ‘stroke’ dan mati.  So, sekarang nggak heran banyak tumbuh manusia ‘ayam sayur’ sekarang ini.

Mari konsumsi ayam yang ‘sehat’

Wes ah, mari belajar hidup sehat, kurangi konsumsi ayam potong serta telur ayam petelur. Kembali memilih ayam pribumi ayam kampung atau yang terbaik malah gunakan ayam organik yang selisihnya paling 3000-4000 sedikit lebih mahal dari ayam sayur, namun kualitas dan nutrisinya bisa jadi 10-20 kali lipat lebih baik dari ayam sayur itu.

 Diposting di : June 2, 2012

15 komentar to “Bahaya Mengkonsumsi Ayam Sayur dan Telur Ayam Petelur”
Read them below or add one

  1. srilindayani mengatakan :

    Manusia itu pada dasarny suka yg serba cpat. Ayam yg sharusny tumbuh dgn alami eh di buat cpat bsar, dgn alasan ini n itu. Dampakny bagi ksehatn? Jelek.
    Emang bnar kata Tuhan: ” tlah nyata krusakan di laut n di muka bumi akibat ulah manusia”
    Back to nature aja lh…

  2. Anonymous mengatakan :

    kalau habiss makan hati ayam , kenapa langsung kenyang yaa ???

  3. iya wah ini bermanfaat bagi saya kak yang masih awam akan ap ap yg terkandung di dalamnya trimakasih atas ap yg di berikan kk semua semoga ini jadi motivasi agar masyarakat indonesia pintar dalam memilih produk dan hidup sehat .

  4. rahmat mengatakan :

    Saya dahului peternak ayam pedaging maupun petelur dan kebetulan lulusan dari kesehatan.
    Kalau melihat multivitamin, obat-obatan dan pakan saya melihat bahwa tidak berbeda jauh dengan konsumsi manusia. Vitamin dan mineral juga sama yang berbeda cuma jumlahnya. obat-obatan pun juga sama hanya berbeda dosisnya, pakan pun juga bergizi sama yang beda cuma jumlah dan bentuknya.
    Kalau ayam pedaging yang cepat besar saya mengetahui bahwa itu hasil dari seleksi genetik dan sudah bertahun2 diteliti. Contoh paling mudah sekarang ada ayam jawa super, silangan F-7 antara ayam broiler dan ayam ras pelung (jabar) menghasilkan ayam cepat besar dan sudah layak konsumsi sekitar 60 hari umur, berasa mirip ayam kampung dan memang mempunyai ciri khas ayam kampung.
    Hal yang sama seperti ayam arab. Ayam ini bukan termasuk ayam kampung namun ayam ini pandai sekali bertelur. Telur yang dihasilkanpun mirip dengan ayam kampung bagi orang awam. Saking populernya telur ayam ini sehingga banyak orang mendeskripsikan bahwa telur ayam kampung berbentuk lebih kecil dan putih, walaupun sebenarnya telur ayam kampung sendiri sangatlah beragam warna dan ukurannya. Yang ingin saya soroti disini bukanlah salahnya ayam ataupun salahnya telur. Yang salah adalah konsumen dan peternaknya. Dari pengalaman saya sebagai peternak selama bertahun2 adalah bahwa peternak tidak bisa lepas dari yang namanya antibiotik (penicillin dan konco2nya). Sekali ayam kena wabah penyakit dan tidak dibasmi dengan antibiotik alamat gulung tikar itu peternak, walaupun sebenarnya antibiotik tidak cukup membantu kalau dari pengalaman saya. kalau misal dibuat organik tanpa antibiotik apakah kira2 konsumen akan membeli? karena resiko dan hasilnya tidak akan sebanding alias hasil ternaknya akan jauh lebih mahal dan relatif sedikit. Jadi kalau mau benar2 sehat maka pilihlah produk yang sehat juga. misalnya mau makan ayam ya ternak sendiri, piara sendiri, sembelih sendiri dan makan sendiri hehehehhe, kalaupun itu tidak mungkin berarti ya pilih2lah produk hasil ternak yang organik, walaupun jauh lebih mahal namun relatif aman. Suatu saat apabila organik sudah menjadi kebutuhan maka itu adalah jaminan bahwa peternak akan memilih beternak secara organik karena walaupun resiko lebih besar namun hasilnya dihargai lebih pula.
    Atau pilih back to basic.. alias orang indonesia konsumsinya produk asli indonesia.. yaitu ayam kampung dan telur ayam kampung

  5. Klu melihat tulisannya mbak Ratna kayaknya lsg menolak keras yah! kayaknya pengusaha ayam antibiotik sukses he he heh

  6. mohammadsaleh mengatakan :

    iniadapenelitian nisudah di publish di mediabaca deh :
    Jumat, 26 Juni 2009
    85% Daging Ayam Broiler Mengandung Antibiotik
    Berbagilah kebaikan dengan mensharing artikel ini melalui FB anda.

    - JAKARTA–MIOL: Hasil penelitian mengungkapkan sebanyak 85% daging dan 37% hati ayam broiler di Jabotabek mengandung residu kelompok antibiotik penisilin cukup besar. Jika daging dan hati ayam itu dikonsumsi dalam jangka waktu cukup panjang berisiko munculnya berbagai penyakit.

    Hal itu diungkapkan dua peneliti, Rusiana dan DN Iswarawanti, pada Seminar SEAMO (Southeast Asian Ministers of Education Organization) dan Tromed RCCN (Tropical Mendicine Regional Center for Community Nutrition) Universitas Indonesia di Jakarta, Senin (22/12).

    Kepada Media, Rusiana yang juga menjabat Kepala Seksi Penilaian Produk Pangan Fungsional Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) mengatakan telah melakukan penelitian ayam broiler di Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi). Sebanyak 80 ekor ayam broiler dijadikan sampel untuk penelitian.

    Berdasarkan hasil penelitiannya,
    ternyata hasilnya 85% daging ayam broiler dan 37% hati ayam broiler itu mengandung residu antibiotik. Rusiana menjelaskan dari sampel daging dan hati broiler itu terdapat residu antibiotik tylosin, penicillin, oxytetracycline, dan kanamycin.

    Penelitian sampel kelompok antibiotik menggunakan metode Bioassay dan hasil analisisnya dinilai berdasarkan Codex Alimentarius Commission (CAC) atau standar pangan yang digunakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Pangan Dunia (FAO), dan standar European Economic Community (EEC).

    “Berdasarkan hasil penelitian terungkap bahwa kelompok antibiotik penisilin merupakan residu yang paling banyak ditemukan di hati ayam,” kata Rusiana.

    Sementara itu, Iswarawanti menambahkan hati ayam broiler mengandung lebih banyak antibiotik kelompok penisilin dibandingkan daging. Kandungan antibiotik penisilin mencapai 41,3% jika dihitung berdasarkan maximum residue limit–MRL per batas maksimal residu). Angka itu masih di bawah 45% kandungan MRL residu penisilin.

    Namun, dia mengingatkan bahwa sebenarnya kelompok antibiotik penisilin itu bukan digunakan untuk ternak ayam, melainkan untuk pengobatan manusia. Jadi, jika daging dan hati ayam broiler itu dikonsumsi dalam jangka waktu panjang sangat membahayakan kesehatan manusia.

    Iswarawanti menjelaskan penyakit yang ditimbulkan akibat mengonsumsi daging dan hati ayam broiler yang mengandung antibiotik itu secara berkepanjangan bisa menyebabkan teratogenic effect, carcinogenic effect, mutagenic effect dan resisten terhadap antibiotik sendiri.

    Rusiana menjelaskan bahwa teratogenic effect adalah kandungan antibiotik bisa menyebabkan efek buruk untuk ibu yang mengandung, terutama untuk janinnya. Ibu yang mengandung bisa mengalami keguguran atau bayi yang dilahirkan cacat.

    Kalau carcinogenic effect, antibiotik yang masuk ke dalam tubuh dapat menyebabkan munculnya penyakit kanker. Sedangkan mutagenic effect, antibiotik dapat menimbulkan mutasi bagi mikroorganisme seperti bakteri.

    Sementara itu, bagi mereka yang banyak mengonsumsi daging dan hati ayam yang mengandung antibiotik, tubuhnya akan mengalami resistan terhadap reaksi antibiotik. Maka, obat antibiotik yang dikonsumsi orang yang banyak makan hati ayam yang mengandung antibiotik tidak akan menimbulkan efek apa pun.

    “Antibiotik itu juga bisa menimbulkan alergi seperti menimbulkan bintik-bintik dan gatal-gatal pada kulit,” tambah Rusiana.

    Dia menjelaskan, untuk daging yang kandungan antibiotiknya rendah relatif aman. Tetapi, hati ayam yang banyak ditemukan mengandung lebih banyak antibiotik penisilin sudah perlu hati-hati untuk mengonsumsinya. ”Padahal, selama ini banyak orang yang mengharapkan mendapat asupan zat besi dengan memakan hati ayam. Tetapi, hati ayamnya ternyata belum aman,” katanya.

    Ditanya kenapa daging dan ayam brolier mengandung antibiotik terutama penisilin, Iswarawanti mengatakan kemungkinan ketidaktahuan dan tidak adanya penyuluhan bagi peternak ayam. Mereka hanya mengharapkan ayamnya sehat, maka disuntik atau diberi pakan yang mengandung antibiotik. (MI/O-1)

    Copyright© 2003 Media Indonesia Online. All rights reserved.

    1. Yumeiho Center mengatakan :

      terima kasih gan sudah berbagi uraiannya.

  7. budi mengatakan :

    transgenic chicken

  8. sarip jaenuddin mengatakan :

    inilah akibatnya.. jika suatu urusan diambil-dikomentari oleh yang bukan ahlinya. broiler cpat tumbuh karena sifat cepat tumbuh beberapa jenis nenek moyang ayam kampung dunia yang dikumpulkan dengan perkawinan dan seleksi ketat ber puluh mungkin beratus generasi. bgitu juga dengan ayam layer. telur nya gak bisa netas, karena tidak dibuahi aja. kumpulkan banyak informasi, kunyah baik2. nilai dengan adil dan proporsional.

    1. bener banget mas.

    2. Yumeiho Center mengatakan :

      sip,, makasih atas masukannya,,, temen temen yang lebih ahli, silakan sharekan ilmunya lebih detail demi menambah pengetahuan bagi masyarakat dan kami yang awam ini. sampaikan yang nilai dengan adil dan proporsional itu.

  9. Ya… karena semua mengejar target dan setoran dengan berbgai macam ‘dalih’ dengan berbgai macam argumentasi. Yang jelas kita harus berhati-hati dan sebisa mungkin selalu meng-edukasi kan kpd saudara-2 yang lain.
    Usia Ayam yg tdk sampai 40 hari, disuntik vitamin, hormon, anti biotik dll waktunya dengan saat dikonsumsi nggak sampai 15 hari. Ya kita cermati sendirilah… bgm resiko yang mengkonsumsinya…?

  10. Memang sudah bukan rahasia lagi penggunaan Bahan kimia dalam industri pertanian… Go Organic!

  11. ratna mengatakan :

    tolong yah… jangan suka bikin tulisan sembarangan dong….
    ayam broiler yang lu bilang ayam sayur itu bisa tumbuh cepat karena telah memalui seleksi genetik yang ketat secara bertahun2, selain itu ditambah dengan pemberian makanan yang sesuai kebutuhan dan management lingkungan yang baik. begitu pula dengan ayam petelur.
    plis deh… lu baca dulu, kl masih ga tau juga tanya langsung sama ahlinya…
    http://www.agrina-online.com/show_article.php?rid=19&aid=3188
    http://www.ciptapangan.com/files/downloadsmodule/@random4413d85398188/1184658400_buletin_januari_2007.pdf
    http://www.agrina-online.com/show_article.php?rid=19&aid=3235
    http://www.agrina-online.com/show_article.php?rid=19&aid=3234

    1. anjrah2006 mengatakan :

      wah ini dia informasi bagus. terima kasih sudah menambahkan.
      namun tetap saja nggak bagus sebab akumulasi banyak suntikan antibiotik vaksin dan sebagainya itu.
      keputusan kepada konsumen sendiri, mau kasih ‘makanan yang demikian’ tu apa ndak buat anak anaknya.

Apa komentarmu?

Your email address will not be published. Required fields are marked by *.